Prakata Gw nehhhh…!!!

19650_1290364532873_1043018769_31166540_3379444_n3Hmmmmm….!!!! Gmn menurut lo semua dengan BLOG gw ini keren kan….???
hahahaha….Gw jg g pernah nyangka klo Gw bs nulis…. yaaa…dri pada disimpen trus di data D komputer Gw mending Gw bikin Blog za biar lo semua bs baca tul g….????

Btw Lo semua lom kenal kan sm Gw…???
Nih gw perkenalkan diri….
Nama Gw Iwel….!!! sbnrnya itu nama panggilan Gw klo lgi On-air secara Gw anouncers disalah satu radio swasta di Geneve (SWISS)… Yups… Gw mang hoby bgt sma yang namanya siaran bs a dibilang gw punya bakat dibidang broadcasting…waktu masih tgl di Indonesia Gw dah beberapa kali siaran di beberapa radio nah sekarang Gw tgl di swiss n skrang Gw siaran di 102.4″BASS Fm” makanya temen2 suka pagil Gw grincheux pot (si panci bawel) hehehehe mang sehh g tau knp Gw tuh suka bgt sma yang namanya ngomong smpe2 klo dikelas dosen lgi ngajar Gw suka gemesss pgn ikutan ngajar hehehehe…!!!
Oiya Gw Kul di National Geneve de Universite Of Suise….!!! gw ngmbil jurusan  special authis n down syndrom Psycology…jurusan yang aneh ya..!!!


Milenium 100 kematian fiuhhhh (T_T”)…!!!

Dari rumpun daun yang mengering,
kristal tangisku yang memudar menciumu
telapak tanganmu. Sepanjang trowongan gerimis
yang jauh, kawah-kawah kesunyian mendidih,
menjelma benua, menghidupkan deru guntur.
Seperti pemabuk, aku hakimi tidurmu.
Arwahku sungsang, mencuri anggur
yang kau sembunyikan di jurang rambutmu.
Seluruh gairah dan derita menuangi gelas-gelas
cawan kerinduanku. Tangis jalan-jalan memecah!
Wujud-wujud kejahatan mengetuki jiwaku.

Jejak-jejak semut mengabur di dinding
dinding lembab kampung. Ingatan rasa sakit
yang dikhusyukan taifun merengkuh ikrar-ikrar liar,
membangkitkan jenazah-jenazah hantu. Seteguk
menara kubangun di tengah laut persis halus
pipimu. Ada yang tumpas, meski di malam-malam
tak berbatas bulan hilang lekas. Diam pasir-pasir getas,
seluruh keperihan meledak-lepas! Bahkan ketika
kutemukan tiang lehermu yang jenjang, sementara
dari masa lalu kusaksikan bagaimana bayang-bayangku
raib, menyerah pada kilat millenium seratus kematian.



Berbisik Dalam Bayangan

Aku berbisik di dalam bayangan.
Tangan-tangan arwah ingatanku yang kurus
menjulurkan kegelapan. Dingin pecah,
meleler di selangkangan cuaca. Rumput-rumput
merintih, tapi payudara-payudara gerimis yang buntal
menopang kelam. Masa lalu mendetakkan gempa.
Kota-kota terbakar. Melengangkan jalanan.

Sisa-sisa keringat jamur yang kuyup,
mengharumkan ajal. Gagak-gagak langit cerlang
berjatuhan, menyiulkan ode hitam seratus pertempuran.
Kesunyianku menemukanmu seolah selokan-selokan
kampung yang gasang. Segera aku onani dengan kelamin
tersayat. Pengetahuanku berkhianat pada bulan.
Meditasi kupu-kupu selepas senja memanggil taufan.
Lintang lapar dikacaukan khayalan. Mayatku sungsang,
mengangkat martil, mengayunkan kekosongan.



Talkin 100 Gerhana

Bisikan talkin seratus gerhana
menyabitkan gema. Arwahku yang terpacak sungsang
di antara puncak-puncak pepohonan dihirup hujan.
Semacam akhir pelangi, takdirku memencil.
Hari-hari lewat meneguhkan ketelanjangan.
Aku pungut rumput, tapi arwahku lebih murung
daripada bayangan.Sebagai kenangan, kertap-kertap
lumpur menghalau cuaca. Puting putihmu bersigasing
antara musim dan kutukan.
Maka kulepas kutangmu, seperti belukar
sayatan pada perdu. Surabaya lembab-samun,
menjadi awal bagi segala pemberontakan dan bisu
Jalan-jalan diteguhkan pelacur,
tapi kesepianku memanjang, muram
menuju kematianku. Aku kilaukan tandan
belulang taifun. Demi selongsong peluru
Bisikan-bisikanku kabur bersigaung pada batu

Tapi pahamilah bagaimana kekosonganku
berlutut, saling menghisap mulut. Segenap rasa sakit
di atap-atap gedung dibakar perusuh. Demikianlah
kelaminku sontak menggembung, memimpikan
derita jenazah-jenazah pemulung. Bahkan apabila bibirku
mencucupi susumu. Sedang mayat-mayatku mabuk
dalam seratus kesumat mengkaparkan tahun-tahun.
Kecabulanku menghidupkan patung-patung pembunuh.
Lenganku makin pipih, menyabitkan rerumput.

2003.


ANGIN DARATAN

Angin daratan meliuk. Bagai burung,
rambut panjangmu tergelung,
menyoraki kabut. Aku memencil serupa tikus.
Bayang-bayangku memudar, diumpati tahun.
Asap gerhana mengepul. Arwahku lari telanjang
menghijaukan daun. Musim-musim tandus.
Sekarat! Susut sepanjang kerak retak lumpur.

Melebihi maut, tapi katakanlah bagaimana
kau cantik, sedang seratus bulan karam
menyiuli nadiku. Keringatku murung. Di ujung pelangi,
darahku kering, bersitetes dengan gema menyerupai guntur.
Dengarlah reqium-requim tatapanku, meski
malam tahajud dan kelam tak juga limbur.
Gedung-gedung dibangun dan runtuh. Seluruh kenangan
dan cumbu bersembunyi di balik celana dalammu.
Aku kini hantu. Puasa dengan jidat tertembus peluru.

Bunga-bunga hanya kutuk, tapi lanskap
seratus kematian ungu. Waktu!
Bangkai-bangkai kelelawar berpekikkan sepanjang gorong
kerongkonganku. Kelak di daerah perbatasan
yang tak dikenal aku memperkosamu. Kaki-kaki
patah arwahku menancapkan cakar-cakarnya yang busuk
di pusat pusar mendung. Segera aku mabuk. Orgasme
tanpa peju. Betapa belatungku hancur. Fantasiku
angus-lebus. Memulai segenap kisah pertempuran
dan derita masa lalu.



Kemarau Diam

Kemarau diam di jiwaku. Serangkai
bayang-bayang randu tumbang, bersiadzan
dengan pilu. Pahamilah bagaimana mataku rabun,
jumpalitan, begitu cemburu. Aku susuri ketiakmu,
tapi rupanya jalanan makin malam, meski aku
telah tinggalkan dirimu. Sepanjang keriuhan kelu,
mayatku terpencil. Ingus para pejalan bergayutan
di jenggotku.

Seluruh kesumat dan derita memacu
pengetahuanku. Arwahku memanggil namamu,
sementara panorama lebur, selangkah demi selangkah
memudar, menjejali batu. Di dasar pijaran kabut,
aku adalah jenazah bagi setiap hasrat dan kesintalanmu.
Kegembiraanku mengintip tato kupu-kupu di pusarmu.
Malam makin dingin, mendzikirkan diamku.
Penampakan-penampakanku gaib, samun, mencair
hitam bersama salju.
Karena bunga-bunga gugur adalah sihir
yang menghidupkan bangkai-bangkai, juga sajak-sajakku.
Demikianlah dingin meledak bersama shalatku.
Pohon-pohon yang rabun dalam gerimis kabur bersama
gemuruh. Aku wudlu matahari,
meniupkan terompet seribu tahun.
Di hari-hari pagi talkin seratus gerhana menafasiku.
Dunia kelak hanya kelam yang mempasakkan
gaung-gaung. Halimun menghirup mayat-mayat
rumput. Aku kini pelangi. Peneguh riwayat ketelanjangan
letusan-letusan peluru.



kelelahanku yang ajaib

Kelelahanku yang ajaib membekukan
bisikan rumput. Museum-museum musim hujan
menyembunyikan mayat-mayat tikus. Seperti kesumat
yang memutihkan pohon-pohon di ujung kampung,
aku meratap, malam hermafrodit, mengkhianati
bayanganku. Renjana turun bersama salju. Gerhana
gerhana berlintasan memamerkan hantu-hantu.

Segera aku panggil Tuhan, tapi bulan
terus berjatuhan di rambutku. Angin berbalik arah,
menjadi peluru yang mengkilaukan tetesan-tetesan embun.
Aku melankoli seketika, memuja-muja pelacur,
menjelma serakan daun, berkeringan di telapak kakimu.
Seperti sumur-sumur kerinduan yang teramat dalam,
arwahku menghidupkan ilusi belatung kupu-kupu.
Aku berfantasi dengan lindu! Jemariku bermain-main
dengan puting yang kau sembunyikan di sebalik kutangmu.

Tulang-tulang badai menggemeretakkan
jiwaku. Kelak aku akan pergi darimu, seperti mercusuar
yang bercahaya di tengah laut. Kutahu inilah
kebahagiaan terakhir yang tak bakal aku kenang
dari kurus pipimu! Aku kini tinggal pemabuk.
Seratus kelelawar mati busuk! Serdadu-serdadu
mengayunkan batu. Berjalan sempoyongan memanggil
manggil teluh.



Birds In The Night (Français)

Vous n’avez pas eu toute patience,Cela se comprend par malheur, de reste.Vous êtes si jeune! et l’insouciance,C’est le lot amer de l’âge céleste!

Vous n’avez pas eu toute la douceur,Cela par malheur d’ailleurs se comprend;Vous êtes si jeune, ô ma froide soeur,Que votre coeur doit être indifférent!

Aussi me voici plein de pardons chastes,Non certes! joyeux, mais très calme, en somme,Bien que je déplore, en ces mois néfastes,D’être, grâce à vous, le moins heureux homme.

           *          * *

Et vous voyez bien que j’avais raisonQuand je vous disais, dans mes moments noirs,Que vos yeux, foyer de mes vieux espoirs,Ne couvaient plus rien que la trahison.

Vous juriez alors que c’était mensongeEt votre regard qui mentait lui-mêmeFlambait comme un feu mourant qu’on prolonge,Et de votre voix vous disiez: «Je t’aime!»

Hélas! on se prend toujours au désirQu’on a d’être heureux malgré la saison…Mais ce fut un jour plein d’amer plaisir,Quand je m’aperçus que j’avais raison!

           *          * *

Aussi bien pourquoi me mettrai-je à geindre?Vous ne m’aimez pas, l’affaire est conclue,Et, ne voulant pas qu’on ose se plaindre,Je souffrirai d’une âme résolue.

Oui, je souffrirai, car je vous aimais!Mais je souffrirai comme un bon soldatBlessé, qui s’en va dormir à jamais,Plein d’amour pour quelque pays ingrat.

Vous qui fûtes ma Belle, ma Chérie,Encor que de vous vienne ma souffrance,N’êtes-vous donc pas toujours ma Patrie,Aussi jeune, aussi folle que la France?

           *          * *

Or, je ne veux pas,—le puis-je d’abord?Plonger dans ceci mes regards mouillés.Pourtant mon amour que vous croyez mortA peut-être enfin les yeux dessillés.

Mon amour qui n’est que ressouvenance,Quoique sous vos coups il saigne et qu’il pleureEncore et qu’il doive, à ce que je pense,Souffrir longtemps jusqu’à ce qu’il en meure,

Peut-être a raison de croire entrevoirEn vous un remords qui n’est pas banal.Et d’entendre dire, en son désespoir,A votre mémoire: ah! fi que c’est mal!

           *          * *

Je vous vois encor. J’entr’ouvris la porte.Vous étiez au lit comme fatiguée.Mais, ô corps léger que l’amour emporte,Vous bondîtes nue, éplorée et gaie.

O quels baisers, quels enlacements fous!J’en riais moi-même à travers mes pleurs.Certes, ces instants seront entre tousMes plus tristes, mais aussi mes meilleurs.

Je ne veux revoir de votre sourireEt de vos bons yeux en cette occurrenceEt de vous, enfin, qu’il faudrait maudire,Et du piège exquis, rien que l’apparence

           *          * *

Je vous vois encor! En robe d’étéBlanche et jaune avec des fleurs de rideaux.Mais vous n’aviez plus l’humide gaîtéDu plus délirant de tous nos tantôts,

La petite épouse et la fille aînéeÉtait reparue avec la toilette,Et c’était déjà notre destinéeQui me regardait sous votre voilette.

Soyez pardonnée! Et c’est pour celaQue je garde, hélas! avec quelque orgueil,En mon souvenir qui vous cajola,L’éclair de côté que coulait votre oeil.

           *          * *

Par instants, je suis le pauvre navireQui court démâté parmi la tempête,Et ne voyant pas Notre-Dame luirePour l’engouffrement en priant s’apprête.

Par instants, je meurs la mort du pécheurQui se sait damné s’il n’est confessé,Et, perdant l’espoir de nul confesseur,Se tord dans l’Enfer qu’il a devancé.

O mais! par instants, j’ai l’extase rougeDu premier chrétien, sous la dent rapace,Qui rit à Jésus témoin, sans que bougeUn poil de sa chair, un nerf de sa face!


Birds In The Night

You were not over-patient with me, dear;  This want of patience one must rightly rate:You are so young! Youth ever was severe  And variable and inconsiderate!

You had not all the needful kindness, no;  Nor should one be amazed, unhappily:You’re very young, cold sister mine, and so  ’Tis natural you should unfeeling be!

Behold me therefore ready to forgive;  Not gay, of course! but doing what I canTo bear up bravely,—deeply though I grieve  To be, through you, the most unhappy man.

But you will own that I was in the right  When in my downcast moods I used to sayThat your sweet eyes, my hope, once, and delight!  Were come to look like eyes that will betray.

It was an evil lie, you used to swear,  And your glance, which was lying, dear, would flame,—Poor fire, near out, one stirs to make it flare!—  And in your soft voice you would say, “Je t’aime!”

Alas! that one should clutch at happiness  In sense’s, season’s, everything’s despite!—But ’twas an hour of gleeful bitterness  When I became convinced that I was right!

And wherefore should I lay my heart-wounds bare?  You love me not,—an end there, lady mine;And as I do not choose that one shall dare  To pity,—I must suffer without sign.

Yes, suffer! For I loved you well, did I,—  But like a loyal soldier will I standTill, hurt to death, he staggers off to die,  Still filled with love for an ungrateful land.

O you that were my Beauty and my Own,  Although from you derive all my mischance,Are not you still my Home, then, you alone,  As young and mad and beautiful as France?

Now I do not intend—what were the gain?—  To dwell with streaming eyes upon the past;But yet my love which you may think lies slain,  Perhaps is only wide awake at last.

My love, perhaps,—which now is memory!—  Although beneath your blows it cringe and cryAnd bleed to will, and must, as I foresee,  Still suffer long and much before it die,—

Judges you justly when it seems aware  Of some not all banal compunction,And of your memory in its despair  Reproaching you, “Ah, fi! it was ill done!”

I see you still. I softly pushed the door—  As one o’erwhelmed with weariness you lay;But O light body love should soon restore,  You bounded up, tearful at once and gay.

O what embraces, kisses sweet and wild!  Myself, from brimming eyes I laughed to youThose moments, among all, O lovely child,  Shall be my saddest, but my sweetest, too.

I will remember your smile, your caress,  Your eyes, so kind that day,—exquisite snare!—Yourself, in fine, whom else I might not bless,Only as they appeared, not as they were.

I see you still! Dressed in a summer dress,  Yellow and white, bestrewn with curtain-flowers;But you had lost the glistening laughingness  Of our delirious former loving hours.

The eldest daughter and the little wife  Spoke plainly in your bearing’s least detail,—Already ’twas, alas! our altered life  That stared me from behind your dotted veil.

Forgiven be! And with no little pride  I treasure up,—and you, no doubt, see why,—Remembrance of the lightning to one side  That used to flash from your indignant eye!

Some moments, I’m the tempest-driven bark  That runs dismasted mid the hissing spray,And seeing not Our Lady through the dark  Makes ready to be drowned, and kneels to pray.

Some moments, I’m the sinner at his end,  That knows his doom if he unshriven go,And losing hope of any ghostly friend,  Sees Hell already gape, and feels it glow.

Oh, but! Some moments, I’ve the spirit stout  Of early Christians in the lion’s care,That smile to Jesus witnessing, without  A nerve’s revolt, the turning of a hair!


Menanti Cinta dalam Gerimis…!!!

Semua mata terbelalak — berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres — mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya. Ada juga polisi yang langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans. Mengapa ada yang ingin bunuh diri?Silakan tanya kepada para penduduk di sebuah negeri yang sedang dilanda cinta, atau kepada seorang laki-laki muda yang tampan, yang kini berdiri gagah dan tenang di bibir gedung pencakar langit, dan siap terjun bebas. Padahal, embun masih terjun ke bawah ketika polisi yang memanjat baru mencapai setengah gedung. Orang-orang pun berteriak histeris. Dan, lihatlah, seperti tubuh yang bunuh diri pertama, wanita itu juga melayang-layang ke bawah. Dari tubuhnya, satu per satu tumbuh bunga-bunga yang mekar. Dan, begitu tiba di tanah, tubuhnya telah menjelma sebatang pohon bunga beraneka rupa. Di pucuk bunga terselip kertas yang bertulis, ”Kubuktikan cinta dengan kepasrahan!” Belum habis keterkejutan orang-orang, kembali terdengar teriakan seseorang, ”Lihat! Di atas gedung bertingkar 52 sana juga ada yang hendak bunuh diri!”Semua terperangah, berteriak ngeri. ”Kegilaan apa lagi ini?!””Lihat! Di gedung 67 tingkat itu juga!””Lihat! Di gedung warna kelabu ungu bertingkat 73 itu juga!””Lihat! Di atas menara pahlawan itu juga!” Semua menggigil seputih kapas di ujung ilalang. Bahkan angin pun beringsut ketakutan. Sebab, hari itu lebih sepuluh orang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (melompat dari atas gedung bertingkat) dan motif yang sama atau hampir sama. Mungkinkah cinta yang menciptakan semua tragedi yang mencemaskan ini? Peristiwa itu mencengangkan semua orang, sekaligus menimbulkan rasa takut dan khawatir yang hebat. Dan peristiwa ini menjadi topik utama di mana-mana, dari kedai kopi, kafe hingga hotel berbintang, terutama menjadi headline koran-koran terkemuka. Berbagai kalangan pengamat memberi komentar dan tanggapan, dari psikolog hingga pengamat sepakbola. Ternyata, hari demi hari, peristiwa bunuh diri itu tiada henti, terus-menerus terjadi. Sehingga, semakin panjang daftar orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Bahkan menjadi ancaman, melebihi wabah penyakit menular. Bunuh diri itu sudah melanda semua orang, dari jompo hingga anak-anak, dengan teknik yang semakin aneh. Sableng bin edan! Ada yang berpakaian Pangeran, Ratu, Pendekar, Batman, Superman. Ada yang bersalto, jumpalitan di udara, berselancar. Ada pula yang terjun sambil baca puisi. Penduduk negeri itu semakin dicekam rasa takut dan waswas yang luar biasa. Semua mengkhawatirkan sanak keluarganya dan dirinya akan ikut bunuh diri suatu waktu. Sebab, penyakit bunuh diri itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti siapa saja. ”Bila tidak segera dihentikan, anak-anak kita, saudara kita, bahkan kita sendiri akan terpengaruh, dan melakukan tindakan bunuh diri itu.””Ya. Ini harus kita hentikan!””Bagaimana caranya? Adakah cara jitu yang kamu pikirkan?” ”Ah. Ayo, kalangan intelektual, berpikir dan bertindaklah segera. Jangan cuma ngoceh ke sana ke mari!” teriak orang-orang, kehilangan arah.Penduduk semakin panik, saling bertanya satu sama lain. Tetapi, semua menggeleng. Semua angkat bahu. Semua jadi buntu jadi batu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Maka, tanpa dikomando, semua tekun berdoa dan samadi agar wabah penyakit bunuh diri itu segera berakhir. Sayangnya, ketika doa-doa meluncur di udara, burung-burung gagak berebutan menyerbu dan mencabik-cabiknya sehingga tidak pernah sampai di meja kerja Tuhan. Jika pun ada yang sampai, cuma berupa sisa atau percah. Tentu Tuhan tidak sudi mendengarnya. Apalagi Tuhan semakin sibuk menata surga — sambil mendengarkan musik klasik — karena kiamat sudah dekat. Disengat kepasrahan yang mencekam itu, tiba-tiba Maharaja menemukan gagasan, ”Kita bikin pengumuman!” teriaknya pasti.Seketika semua melongong. ”Pengumuman? Untuk apa?””Di setiap tempat, kita buat pengumuman: Dilarang Jatuh Cinta!”Semua kurang menanggapi. ”Apakah mungkin efektif untuk mengatasi maut yang mengancam di depan mata kita?” Maharaja angkat bahu. ”Coba dulu, baru tahu hasilnya,” jawab Maharaja. ”Masalah utamanya sudah jelas, akibat cinta. Setiap orang yang terjerat cinta, entah mengapa jadi ingin bunuh diri. Satu-satunya cara, ya, kita larang orang-orang jatuh cinta. Siapa pun tak boleh jatuh cinta agar hidup terjamin.” ”Wah, mana mungkin. Jatuh cinta itu manusiawi. Beradab dan berbudaya. Berasal dari hati. Kata hati. Muncul begitu saja — tanpa diundang. Apalagi, cinta kan pemberian Tuhan,” protes orang-orang, tak dapat menerima pendapat Maharaja yang dinilai ngawur. ”Terserah. Jika ingin selamat, menjauhlah dari cinta. Kalian jangan pernah jatuh cinta. Mengerti?! Tetapi jika sudah bosan hidup, ya, silakan jatuh cinta!” tegas Maharaja. ”Sekarang, mari kita pasang pengumuman itu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya!” Meski dijerat tali ketidakmengertian yang luar biasa, pengumuman akhirnya dibuat juga. Dipancangkan dan ditempelkan di mana-mana, termasuk di bandara. Maharaja bahkan melakukan siaran langsung di seluruh televisi: ”Saudara-saudari sekalian yang saya benci. Sebab, mulai sekarang, saya tak ingin mencintai, agar berumur panjang. Saya harus benar-benar dipenuhi kebencian. Seperti kita saksikan bersama-sama, cinta telah menyebabkan banyak orang bunuh diri. Cinta telah membutakan mata. Cinta telah merenggut nyawa sanak keluarga kita. Cinta mengancam kita. Maka, dengan ini, kepada semua yang mendengarkan pengumuman ini, saya tegaskan: dilarang jatuh cinta! Kita harus melawan cinta. Kita tegas-tegas menolak cinta. Cinta tidak memberi apa-apa yang berharga bagi kita, cuma kematian. Mengerikan, bukan? Mulai sekarang, kita proklamirkan semboyan baru kita: hidup sehat tanpa cinta. Hiduplah dengan saling membenci, bercuriga, menghasut, dan sebagainya. Jangan pernah mencintai!” Aneh. Penduduk bertepuk sorak menyambut pengumuman itu. Bahkan, untuk selanjutnya, banyak yang memuji kebijaksanaan Maharaja sebagai sikap brilian. Mereka merasa telah menemukan solusi jitu memberantas wabah penyakit bunuh diri itu. Hidup tanpa cinta, tidak terlalu buruk demi hari depan yang lebih baik. Dengan saling membenci, esok yang lebih cerah dan terjamin siapa tahu segera tercapai. Hari masih terlalu subuh. Ayam dan burung-burung masih ngorok. Tetapi keributan orang-orang dan kesibukan polisi telah merobek cadar ketenangan. Apalagi wartawan-wartawan sibuk meliput dan melaporkan — blizt dan lampu kamera televisi berpantulan. Apa yang sedang terjadi. Wah. Sungguh mengejutkan dan mencengangkan! Betapa tidak, di depan gedung istana Maharaja berlantai 113 yang mencuat menusuk langit kelam, Maharaja dengan masih memakai piyama sedang berdiri di atasnya bersiap-siap bunuh diri. Orang-orang menahan napas dan terbelalak ngeri menyaksikan tragedi ini. Sementara, istrinya, Maharani menyorot api kebencian, ”Biarkan ia menikmati kesempurnaan cintanya!” Maharaja mengembangkan tangan. ”Ah. Ternyata cinta itu indah. Kita tak dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu anugerah. Berdosalah orang-orang yang tak memiliki cinta!” teriak Maharaja, lalu melompat ke bawah. Tubuhnya melayang dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Tiba-tiba menyusul sesosok tubuh wanita muda yang sintal, melompat sembari bersenandung lagu cinta. Tubuhnya juga melayang, seperti menari — dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Begitu tiba di tanah, bunga-bunga itu pelahan merambat dan menyatu, lalu membesar dan menjadi belukar yang menjalari dinding-dinding istana dan rumah tangga-rumah tangga. Semua melotot heran. ”Mengapa Maharaja bisa segila itu?””Selingkuh. Ia selingkuh dengan sekretarisnya!” cibir Maharani sambil meludah ke tengah belukar itu. Akibat ludah itu, tiba-tiba belukar itu bergerak-gerak liar sepenuh nafsu kelabu, membelit kedua kaki Maharani, dan menariknya, ”Cintakah?!”


The Girl Behind The River

–“Hari itu, hari pertama aku melihatnya, aku hampir jatuh pingsan….”– 
           Saat itu, aku baru membeli sebuah rumah yang terpencil dari kehidupan kota. Aku adalah seorang penulis novel miskin. Hingga saat ini, sama sekali belum ada novelku yang berhasil menjadi bestseller. Aku memang masih amatir, tapi ingin hidup dari hasil menulisku! Aku sudah menolak tawaran orang tuaku untuk bekerja di salah satu perusahaan mereka. Mereka tidak senang dengan keputusanku ini. Sejak kami bertengkar hebat 2 tahun lalu, aku memutuskan untuk mencoba peruntunganku di bisnis ini. Kami putus hubungan sejak saat itu.
            Dua tahun ini, aku menyadari sulitnya pilihanku ini. Penerbitku menolak menerima karya-karyaku lagi. Mereka mengemukakan alasan yang berpanjang lebar, seperti biasanya, tapi intinya: “Kami tidak menerima sampah.” 
           Karena itulah, aku membeli “Taman Firdaus” mini ini. Uangku habis untuk itu, tapi seharusnya aku bisa bertahan hidup dengan memakan apa yang ada dari alam di sekelilingku dengan gratis. Aku bisa makan dari tumbuhan-tumbuhan berbuah di sekitar sini dan aku bisa minum dari sungai di belakang rumahku.
 –“Selama ratusan tahun, terdapat suatu mitos tentang “Sungai Feng-Huang” yang telah beredar di kalangan orang Cina yang mempercayai kehidupan abadi. Dikatakan bahwa sungai ini tidaklah berdasar. Sungai ini hanyalah gerbang yang menghubungkan dunia ini dengan akhirat.”–
             Omong-omong, Sungai itu juga aneh. Jernih sekali memang, tapi aku tidak dapat melihat dasarnya. Tidak ada ikan yang mendiaminya, dan bahkan sungai ini tidak mengalir sama sekali.
            Sekitar 1 bulan sejak aku dating ke tempat itu untuk “pertapaan”-ku, aku melihat sesuatu yang bahkan tidak pernah kumimpikan.
            Pagi itu, seperti biasanya, aku langsung pergi ke sungai itu untuk minum. Cahaya matahari masih bersinar dengan redup dan langit masih gelap. Mungkin karena itulah, aku dapat melihatnya hari itu, seorang gadis putih tampak menatapku dari dalam sungai.
            Bukan main terkejutnya aku waktu itu! Aku sampai tersedak air yang sedang kuminum sendiri!
            Tampaknya bukan hanya aku yang terkejut. Gadis itu menjerit ketika melihatku dan menghilang dari pandangan.            Gadis itu tidak muncul lagi berhari-hari kemudian. Aku bahkan mulai mengira bahwa yang kulihat hanyalah mimpi. Hingga suatu hari, gadis itu muncul lagi di balik riak air sungai itu.
            Sepanjang ketidakhadirannya itu, kupikir aku sudahmempersiapkan jantungku kalau-kalau dia muncul lagi. Tapi nyatanya aku tetap shock watu melihatnya lagi. Dia pun tetap menjerit, meskipun hanya sesaat.
            “Apa kau hantu?” tanyaku sambil berusaha agar tidak ngompol.
            “I… iya, mungkin…. Kau sendiri apa?” tanyanya gelagapan juga.
            Begitulah perkenalan kami. Bukan perkenalan yang berjalan lancar, kalau boleh kubilang….
            “Tentu saja aku manusia!” balasku.
            “Bohong! Terus, bagaimana kita bisa bicara seperti ini?”
            “Itu ‘kan gara-gara kamu! Kenapa juga kamu menghantui sungaiku?”
            “Sungai apaan? Aku masih di akhirat, kok!”
            Kami bertengkar sedikit. Dia ngotot kalau ini adalah akhirat dan kalau aku sedang berada di neraka. “Maksudku,” sambungnya. “kalau akhirat itu ada di atas, neraka pasti ada di bawah, kan? Semua juga tahu kalau neraka itu ada di bawah tanah!”
            “Ini bukan bawah tanah! Lihat sendiri! Ini ruangan terbuka!”
            “Kau bisa kena hukuman tambahan kalau nggak ngaku ada di neraka!”
            “Ini bukan neraka! Aku masih hidup, bego!” 
           “Maksud….” Dan pertengkaran kami ini terpotong. Lagi-lagi dia hilang dari pandangan.
             Esok harinya, aku menemui gadis itu lagi. Pembicaraan kami ini lebih mulus dari sebelumnya. Mungkin karena kami sudah tidak terlalu terkejut menemukan penghuni dunia seberang.
            “Ah, aku sudah bertanya pada penjaga,” katanya. “Dia bilang, memang ada sungai yang menghubungkan dunia ini dan duniamu. Ini adalah Sungai Feng-Huang yang ada di mitos-mitos kuno….”
            “Sungai apa?” tanyaku kikuk.
            Dia tampak gusar karena aku memotongnya. “Zaman dahulu kala, terjadi kekacauan besar sejak perang besar antara cahaya dan kegelapan. Iblis berhasil merobek dinding perlindungan akhirat. “Walaupun perang berhasil diakhiri, rongga jalan masuknya iblis itu tidak dapat ditutup. Hingga akhirnya, Dewa memerintahkan salah seekor burung emasnya, phoenix, untuk menjaga lubang itu.
            “Phoenix menggunakan seluruh sihir yang dimilikinya, dan menutup lubang itu dengan air abadi. Dan untuk menjaga agar tak satupun yang menembusnya, dia menanam api abadi di lubang itu. Dan Phoenix itu tertidur lagi selama seribu tahun, hingga kelahirannya yang berikutnya.
           “Namun, rongga itu tidak dapat menahan sihir phoenix. Rongga itu mulai merubah segala susunan ruang dan waktu, hingga akhirnya rongga itu menghubungkan dunia yang hidup dengan akhirat.
          “Rongga itu hilang bersama dengan aliran air yang diberikan phoenix. Namun, tidak berarti rongga itu lenyap untuk selamanya. Para Dewa masihlah percaya, rongga itu berada di suatu tempat di akhirat. Para Dewa menanti, hingga tragedy lain menghampiri akhirat melalui rongga itu, namun tidak kunjung terjadi. Para Dewa percaya, mereka yang ‘berhak’ dapat menembus segala rintangan yang ada untuk mencapai dunia itu dan menipu ‘tidur dalam keabadian’.
          “Yah, begitulah yang diceritakan mereka padaku. Maaf, deh, aku ngotot banget kemarin.”
          “Ah, tidak apa-apa. Aku juga sama saja.”Kami terdiam beberapa saat. Aku berusaha memahami ceritanya itu.“Namaku Rin,” sahutnya memperkenalkan diri.
          “Ah…. Namaku Joe,” balasku.
          “Omong-omong, akhirat itu seperti apa, sih?”Sejak itu, kami sering ngobrol kalau senggang. Sayangny, sungai itu hanya bekerja saat matahari sedang redup. Di pagi hari dan sore hari, aku mengunjungi Rin. Terkadang, saat hari sedang mendug, aku juga mengunjunginya. Aku bahkan membuat sebuah pondok kecil sehingga kami bisa ngobrol di saat hari sedang hujan.Begitulah hubungan kami, sebagai orang dari dimensi yang berbeda.
          Sayangnya, aku jatuh cinta padanya….
–“Mereka yang ‘berhak’ dapat menembus segala rintangan yang ada untuk mencapai dunia itu dan menipu ‘tidur dalam keabadian’.”– 
            Aku hampir tidak heran saat mengetahui jawabannya.
“Jangan menyukaiku,” sarannya dengan muka sedih. “Kini, aku tidak lebih dari roh….”
            Aku tahu, dia pun menyukaiku. Sayangnya, batas kehidupan inilah yang memisahkan kami. Lupakan Romeo and Juliet! Permasalahanku ini lebih besar dari sekedar pertengkaran antar-keluarga!
            “Tidak bisakah kita selalu bersama?” tanyaku dengan kecewa. Dia tidak pernah menjawab pertanyaanku.Dan aku tidak pernah melupakan bait terakhir dari mitos itu. “Mereka yang ‘berhak’ dapat menembus segala rintangan yang ada untuk mencapai dunia itu dan menipu ‘tidur dalam keabadian’.” Dalam hati, aku bertanya-tanya, siapa yang ‘berhak’ itu.
 –“Karena kamu, aku masih di sini….” –
            Setahun telah lewat, sejak aku membeli Taman Firdaus-ku sendiri. Tanpa terasa, aku telah mengenal Rin selama satu tahun ini. Selama setahun ini, hubungan kami telah berkembang. Namun, kami tidak dapat melebihi taraf “teman baik”.
            Ada suatu pembatas raksasa yang membedakan kami, suatu batas yang tidak dapat kami tembus.Rin tidak mengharapkan agar aku mati hanya demi dirinya. Aku pun tidak cukup bodoh untuk melakukannya. Kami sama-sama menghargai nyawa yang ada, dan justru itulah puncak permasalahannya.
           “Percuma,” kata Rin suatu kali. “Kalaupun kau bunuh diri, kau pasti masuk neraka. Kita justru akan terpisah semakin jauh….”
           Aku juga tidak ingin masuk ke dalam neraka. Kalau itu terjadi, entah kapan aku bisa merangkak naik ke akhirat. Mungkin perlu ribuan tahun hingga aku bisa bertemu dengannya lagi.
 –“Ingatan tentang kitalah yang menopangku hingga kematian….”– 
           Di suatu pagi yang mendung, aku sangat heran saat mendapati sungai itu kosong. Tidak biasanya Rin tidak mengunjungiku seperti ini. Aku mulai merasa gelisah. Aku masih berusaha menenangkan pikiranku dengan alasan “mungkin dia bangun kesiangan”.
           Namun, saat Rin tidak muncul juga di sore harinya, jantungku berdegup semakin kencang. Dengan pikiran penuh kekhawatiran, aku mulai memanggilnya dari balik sungai dengan sia-sia.Aku mulai putus asa, dan dengan ngotot, menolak meninggalkan pondok kecil yang kubangun di sebelah sungai itu.Esok paginya, Rin muncul dengan kepala berdarah.
          “Rin! Kamu kenapa?” tanyaku panik.
          “Ah, Joe…,” balasnya lemah. “Tidak apa-apa…. Sedang ada perang lagi antara malaikat dan iblis…. Kurasa… akan selesai sebentar lagi….”
          “Rin! Jawab! Rin!”Rin tidak bergeming sedikitpun.
          Kepalaku dipenuhi pertanyaan. Namun, yang lebih penting dari itu, aku ketakutan. Jujur saja, aku takut ditinggal pergi olehnya. Aku takut aku tidak bisa melakukan sesuatu. Dan aku takut, aku akan mengacaukan semuanya kalau aku bertindak sembrono.
          Tapi aku tetap menolak untuk kehilangan dia. Aku melompat ke dalam sungai, berharap untuk yang terbaik.Sungai itu dingin dan gelap. Lebih tepatnya, tidak ada apapun di dalamnya selain gelembung air. Dengan nekat, aku mulai berenang ke bawah, mencar-cari dasar sungai.
         Kegelapan ini membuat nyaliku menciut. Aku bahkan heran ketika merasakan tubuhku masih tetap berenang.Hingga, tanganku menyentuh sesuatu yang halus. Aku berhenti dengan ketakutan dan siaga, namun tidak ada apapun yang terlihat. Pikiranku mulai beterbangan pada roh-roh penasaran. Rin pernah menyebutkan betapa berbahayanya mereka….
         Tepat di saat aku mengingat Rin, aku mulai memacu diriku lagi. Aku hanya membuang oksigen dengan berdiam diri seperti itu.Hingga tanganku menyentuh sesuatu yang lain.
         Kali ini aku melihat sehelai bulu keemasan mengambang. Aku memperhatikan bulu tersebut mengalir melewatiku. Saat itulah aku sadar bahwa aku sudah melewati suatu dinding api raksasa yang nyaris kasat mata di belakangku.Aku mulai berpacu lagi, dikejar oleh oksigenku yang sudah hampir habis.
         Aku berusaha berenang secepat mungkin sementara paru-paruku semakin memberontak.Dan dengan bunyi desiran air yang keras, aku berhasil menembus sungai.
 –“Dan biarlah puisi ini menjadi akhir ceritaku sendiri. Cerita yang akan membawa kebahagiaan untuk yang lain….”– 
          “Rin!” teriakku begitu menemukannya terbaring di samping sungai.Secepat mungkin aku keluar dari air dan menggapainya.
          Kepalanya berdarah parah, seakan-akan kepalanya membentur batu karang. Aku mencoba menghapus darahnya yang menetes turun ke wajahnya dengan tanganku.
          “Joe…?” sahutnya lemah saat aku menyeka darah di dekat matanya.
         “Rin! Kau tidak apa-apa?”
         “Ya,” katanya dengan nada lelah. “Maksudku, masih sedikit pusing, tapi….”
         Dia tampaknya baru saja menyadari kehadiranku. “Bagaimana kau bisa di sini?” tanyanya.
         “Itu tidak penting! Aku melewati sungai itu! Aku khawatir kamu akan….”
         Aku tidak berani melanjutkan kata-kataku. Rasa lega melandaku dengan tiba-tiba, membuat badanku lemas.Aku mulai merasakan setetes air mata membasahi pipiku. “Demi Tuhan, untung kau baik-baik saja…,” sahutku sambil menyeka air mata itu. “Kupikir tadi….”
         Rin terdiam menatapku. Kemudian, dia berkata kepadaku sambil tersenyum, “Bodoh. Aku ini sudah mati. Aku tidak bisa mati lagi.”
         Aku hanya bisa bengong mendengarnya. Akal sehatku mulai bekerja. “Astaga, kau benar….”
         Kami tertawa kecil. “Dasar bodoh!” ulangnya lagi. Setelah berhenti tertawa, dia menatapku dengan mata sayu. “Tapi,” lanjutnya. “Aku senang kau datang.”
        “Ya, aku juga….”